Pelaksanaan Shalat Rasulullah Di Atas Mimbar
Judul Bab
بَابُ الصَّلَاةِ فِي السُّطُوحِ وَالْمِنْبَرِ وَالْخَشَبِ
Bab tentang Shalat di Atap, Mimbar, dan Kayu
Terjemah Bab
وَلَمْ يَرَ الْحَسَنُ بَأْسًا أَنْ يُصَلَّى عَلَى الْجُمَّدِ وَالْقَنَاطِرِ وَإِنْ جَرَى تَحْتَهَا بَوْلٌ أَوْ فَوْقَهَا أَوْ أَمَامَهَا إِذَا كَانَ بَيْنَهُمَا سُتْرَةٌ
وَصَلَّى أَبُو هُرَيْرَةَ عَلَى سَقْفِ الْمَسْجِدِ بِصَلَاةِ الْإِمَامِ
وَصَلَّى ابْنُ عُمَرَ عَلَى الثَّلْجِ
- Hasan Al-Bashri berpendapat bahwa tidak mengapa melaksanakan shalat di atas salju (الجُمَّدِ) dan jembatan (الْقَنَاطِرِ). Meskipun di bawahnya, di atasnya, atau di depannya mengalir kencing (najis), asalkan terdapat pembatas (sutrah) antara orang yang shalat dan najis tersebut.
- Abu Hurairah pernah melaksanakan shalat di atas atap masjid, mengikuti shalatnya imam.
- Abdullah Ibnu Umar pernah melaksanakan shalat di atas salju.
Matan Hadis (Hadits Utama dalam Bab)
حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ قَالَ سَأَلُوا سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ مِنْ أَيِّ شَيْءٍ الْمِنْبَرُ فَقَالَ مَا بَقِيَ بِالنَّاسِ أَعْلَمُ مِنِّي هُوَ مِنْ أَثْلِ الْغَابَةِ عَمِلَهُ فُلَانٌ مَوْلَى فُلَانَةَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَامَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ عُمِلَ وَوُضِعَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ كَبَّرَ وَقَامَ النَّاسُ خَلْفَهُ فَقَرَأَ وَرَكَعَ وَرَكَعَ النَّاسُ خَلْفَهُ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ ثُمَّ رَجَعَ الْقَهْقَرَى فَسَجَدَ عَلَى الْأَرْضِ ثُمَّ عَادَ إِلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ رَكَعَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ ثُمَّ رَجَعَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ بِالْأَرْضِ فَهَذَا شَأْنُهُ
قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ قَالَ عَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ سَأَلَنِي أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ قَالَ فَإِنَّمَا أَرَدْتُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَعْلَى مِنْ النَّاسِ فَلَا بَأْسَ أَنْ يَكُونَ الْإِمَامُ أَعْلَى مِنْ النَّاسِ بِهَذَا الْحَدِيثِ
قَالَ فَقُلْتُ إِنَّ سُفْيَانَ بْنَ عُيَيْنَةَ كَانَ يُسْأَلُ عَنْ هَذَا كَثِيرًا فَلَمْ تَسْمَعْهُ مِنْهُ قَالَ لَا
Terjemah Matan Hadis
Abu Hazim menceritakan bahwa ada yang bertanya kepada Sahal bin Sa’ad, “Mimbar Rasulullah ﷺ itu terbuat dari apa?”
Sahal bin Sa’ad menjawab, “Tidak ada orang yang masih hidup sekarang yang lebih tahu jawabannya daripada saya. Mimbar tersebut terbuat dari kayu Atsal dari hutan Al-Ghabah (sebuah hutan di pinggiran Kota Madinah). Mimbar tersebut dibuat khusus untuk Rasulullah ﷺ oleh seorang lelaki, mantan budak si Fulanah.”
“Ketika sudah selesai dibuat dan diletakkan, Rasulullah ﷺ berdiri di atas mimbar tersebut. Lalu, beliau menghadap kiblat dan bertakbir. Orang-orang pun berdiri di belakang Rasulullah. Beliau membaca bacaan shalat, rukuk, dan orang-orang pun rukuk di belakang beliau. Kemudian, beliau mengangkat kepalanya, lalu berjalan mundur ke belakang (al-qahqarā) dan melaksanakan sujud di atas tanah (lantai). Setelah itu, beliau kembali lagi ke mimbar, lalu melaksanakan rukuk, kemudian mengangkat kepala, dan kemudian kembali berjalan mundur ke belakang sehingga melaksanakan sujud di tanah. Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.”
Biografi Singkat Sanad Hadits
Ali bin Abdullah
Nama dan nasab lengkap beliau adalah Ali bin Abdullah bin Ja’far bin Najih bin Bakar bin bin Sa’ad Al Sa’adi.
Beliau lebih terkenal dengan sebutan Ibnu Al Madini.
Dalam dunia hadits, beliau diberi gelar sebagai Amirul Mukminin.
Beliau wafat pada tahun 178 H.
Sufyan bin Uyainah
Belaiu lahir pada tahun 107 H di Kufah.
Abu Hazim
Nama lengkap abu hazim adalah Salamah bin Dinar. Beliau merupakan seorang Tabi’in yang berada di Madinah.
Ada perbedaan pendapat tentang tahun wafat beliau. Ada yang menyatakan tahun 133 H, 135 H, 140 H, dan 144 H.
Sahal bin Sa’ad
Neliau yermasuk dalam kategori sahabat junior (Shigar Al Shahabah).
Beliau juga merupakan sosok sahabat Rasul yang terkahir meninggal di Kota Madinahn pada tahun 88 H dalam usia mencapai 100 tahun.
Percakapan Ali bin Abdullah dan Imam Ahmad
(Diriwayatkan oleh Abu Abdillah/Imam Bukhari) Ali bin Abdullah menceritakan bahwa Ahmad bin Hanbal pernah bertanya kepadanya tentang maksud dari hadis ini.
Ali bin Abdullah menjawab, “Saya memahami bahwa Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat dengan posisi lebih tinggi dari makmum. Berdasarkan hadis ini, maka tidak mengapa seorang imam berdiri dengan posisi lebih tinggi dibandingkan makmum.”
Lalu, Ali bin Abdullah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal, “Sufyan Bin Uyainah sering kali ditanya tentang riwayat hadis ini. Apakah engkau tidak mendengar riwayat ini secara langsung dari beliau?” Ahmad bin Hanbal menjawab, “Tidak pernah.”
Syarah dan Penjelasan Hadis
Judul Bab: Isyarat Kebolehan
Imam Bukhari membuat judul bab “Shalat di Atap, Mimbar, dan Kayu” sebagai isyarat bahwa beliau menyetujui pendapat yang menyatakan boleh melaksanakan shalat di atas ketiga permukaan tersebut (atap, mimbar, dan jembatan).
Hal ini menjadi penting karena ada sebagian Tabiin dan beberapa ulama dalam mazhab Maliki yang memiliki pendapat berbeda, terutama mengenai posisi imam yang berdiri lebih tinggi dari makmum.
1. Shalat di Atas Salju dan Jembatan
Maksud Imam Bukhari menukil pendapat Hasan Al-Bashri tentang shalat di atas salju dan jembatan adalah untuk menunjukkan bahwa persyaratan menghilangkan najis bagi orang yang shalat hanya khusus pada tempat yang mengenai langsung tubuh orang yang shalat. Apabila ada penutup (seperti salju tebal atau jembatan) yang memisahkan dari najis di bawahnya, maka shalatnya sah.
Kesamaan salju dan jembatan adalah adanya kemungkinan di bawah keduanya mengalir kencing atau najis lainnya.
2. Kisah Shalat Abu Hurairah di Atap Masjid
Kisah shalatnya Abu Hurairah di atas atap masjid, mengikuti shalatnya imam, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari jalur Salih (mantan budak Al-Tau’amah). Meskipun secara kredibilitas Salih termasuk perawi yang berstatus lemah, riwayat ini dikuatkan oleh jalur lain yang bersumber dari Said bin Mansur. Riwayat ini menguatkan keabsahan shalat di atas bangunan yang lebih tinggi, bahkan mengikuti imam yang berada di bawah.
3. Kontroversi Nama Pembuat Mimbar Rasul
Nama tukang kayu pembuat mimbar Rasulullah ﷺ masih diperdebatkan. Salah satu riwayat yang dianggap paling mendekati keabsahan adalah riwayat Abu Said dalam kitab Syarof Al-Musthofa dari jalur Ibnu Lahi’ah, dari Umarah Ibnu Ghaziyah, dari Abbas bin Sahal, dari Sahal:
Di Madinah ada satu orang tukang kayu yang bernama Maimun. Lalu Sahal menyebutkan kisah tentang mimbar Rasulullah.
4. Kontroversi Nama Wanita Tuan Tukang Kayu
Adapun nama tuan dari tukang kayu tersebut (si “Fulanah”) tidak diketahui secara pasti, tetapi yang pasti wanita tersebut berasal dari golongan Anshar.
- Ibnu Al-Tin mengutip pernyataan dari Imam Malik bahwa tukang kayu tersebut merupakan budak Sa’ad Bin Ubadah. Kemungkinan besar, budak ini awalnya adalah budak dari istri Sa’ad bin Ubadah yang bernama Fukaihah binti Ubaid bin Dulaim.
Penyebutan budak Sa’ad bin Ubadah dianggap sebagai penyebutan majazi (kiasan), sedangkan hakikatnya budak milik Fukaihah. Besar kemungkinan Fulanah yang dimaksud dalam hadis sahih Bukhari adalah Fukaihah binti Ubaid.
- Riwayat ‘Ulatsah: Ja’far Al-Mustaghfiri mengutip riwayat dalam Kitab Al-Dalail bahwa nama sahabat wanita tersebut adalah ‘Ulatsah. Redaksi riwayat tersebut berbunyi:
ارسل الى علاثة امرأة قد سماها سهل
(Artinya: Telah diutus kepada ‘Ulatsah seorang wanita yang namanya sudah disebutkan oleh Sahal.)
Menurut Abu Musa, penyebutan nama ‘Ulatsah dalam riwayat tersebut merupakan kesalahan penyalinan naskah oleh Ja’far Al-Mustaghfiri atau gurunya. Seharusnya yang benar adalah Fulanah, bukan ‘Ulatsah.
- Riwayat Aisyah: Imam Al-Kirmani menyebutkan adanya ulama yang menyatakan bahwa nama wanita tersebut adalah Aisyah. Namun, Ibnu Hajar meragukan keabsahan pernyataan ini dan menduga adanya kesalahan penyalinan. Ibnu Hajar menemukan riwayat lain dalam Kitab Al-Awsath karya Imam Thabrani dari Jabir bin Abdullah:
كان يصلي إلى سارية في المسجد ويخطب إليها ويعتمد عليها ، فأمرت عائشة فصنعت له منبره هذا
(Artinya: Adalah Rasulullah melaksanakan Shalat menghadap sebuah tiang dalam masjid. Kemudian Rasul berdiri berkhutbah sambil berpegangan pada tiang tersebut. Lalu Aisyah memerintahkan saya dan saya membuat untuk Rasul mimbar yang ini.)
Menurut Ibnu Hajar, sanad riwayat Jabir ini lemah. Sekiranya sahih pun, tidak dapat dijadikan patokan bahwa wanita yang dimaksud dalam hadis riwayat Sahal adalah Aisyah, kecuali hanya sekadar dikait-kaitkan.
Tujuan Utama Judul Bab dan Hadis
Tujuan Imam Bukhari menyusun judul bab dan meredaksi hadis ini adalah untuk menegaskan dua hal utama dalam hukum fikih:
- Kebolehan melaksanakan shalat di atas mimbar atau permukaan lain yang lebih tinggi.
- Kebolehan adanya perbedaan posisi ketinggian antara imam dan makmum.
Maksud kedua ini diperkuat dengan penulisan kisah oleh Imam Bukhari antara gurunya, Ali bin Abdullah bin Al-Madini, dengan Imam Ahmad bin Hanbal.
Klarifikasi Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Uyainah
Dari kisah yang disampaikan Imam Bukhari, terlihat bahwa Imam Ahmad bin Hanbal tidak mendengar hadis ini secara lengkap dari Sufyan bin Uyainah.
Namun, Ibnu Hajar setelah mengecek Musnad Imam Ahmad bin Hanbal menemukan pernyataan Sahal dengan sanad yang sama, tetapi dengan redaksi yang sangat singkat:
كان المنبر من أثل الغابة
(Artinya: Mimbar Rasul terbuat dari pohon Atsal dari hutan Al-Ghabah.)
Dengan demikian, jawaban Imam Ahmad bin Hanbal bahwa beliau tidak mendengar hadis ini dari Sufyan bin Uyainah adalah tidak mendengar secara lengkap. Adapun redaksi secara singkat, ternyata Imam Ahmad bin Hanbal mendengarnya secara langsung. Dalam redaksi riwayat singkat tersebut sudah terkandung makna tentang shalatnya Rasulullah ﷺ di atas mimbar, oleh sebab itu beliau bertanya kepada Ali bin Abdullah bin Al-Madini tentang makna hadis tersebut yang dipahami oleh beliau.
Hukum Shalat di Atas Kayu
Termasuk dalam makna umum hadis di atas adalah kebolehan shalat di atas kayu.
- Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin memakruhkan shalat di atas kayu.
- Ibnu Abi Syaibah juga meriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud tentang kemakruhan shalat di atas kayu.
- Ibnu Abi Syaibah juga meriwayatkan dari Masruq bahwa beliau meletakkan batu bata apabila beliau melaksanakan shalat di atas kapal laut. Riwayat serupa juga disampaikan oleh Ibnu Sirin.
Meskipun demikian, pendapat yang menyatakan boleh melaksanakan shalat di atas kayu adalah pendapat yang muktamad (dijadikan pegangan).


https://ahmadalfajri.my.id
https://ahmadalfajri.my.id
Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!