Kesunnahan Memakai Wewangian Sebelum Niat Ihram
Alhamdulillah hari ini tanggal 11 Jumadil Awwal 1447 / 2 November 2025, kegiatan pengajian rutin RADAD (Rabitah Alumni Dayah Darussalam) dilaksanakan di Gampong Buwah, Baktiya.
Tema pengajian yang diasuh oleh Abi Najmuddin kali ini adalah tentang kesunnahan memakai wewangian sebelum niat Ihram.
Berikut ini adalah materi pengajian yang sudah saya rangkum. Semoga bermanfaat.
Disunnahkan Memakai Wewangian bagi orang yang ingin niat ihram. Adapun pembahasannnya adalah sebagai berikut :
I. Di Badan
Disunnahkan bagi orang yang hendak berihram yaitu memakai wewangian di badannya. Dalilnya adalah Al Itba’ (mengikuti Rasulullah).
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Sayyidah Aisyah :
كنت أطيب رسول الله لإحرامه قبل أن يحرم ، و لحله قبل ان يطوف بالبيت
Artinya : Saya memakaikan wewangian pada Rasulullah untuk ihram sebelum berihram. Dan untuk Tahallul sebelum melaksanakan thawaf.
(Shahih Bukhari Karya Abu Abdillah Muhammad Bin Ismail Bin Ibrahim Bin Al Mughirah Bin Baradzibah Al Bukhari Al Ju’fi. W. 256 H. Hadits Ke. 1539. Hal. 374. Penerbit. Dar Ibnu Al Katsir. Damsyiq. Beirut)
(Lihat Kitab Shahih Muslim Bi Syarhi Al Nawawi Karya Imam Nawawi. Juz. 8. Hal. 139. Hadits ke 1189. Penerbit. Muassasah Qurthubah. Cet. 2. Tahun 1994 M)
Hukum memakai wewangian ini berlaku kepada lelaki dan juga wanita.
Tapi menurut satu pendapat : Tidak disunnahkan bagi wanita.
II. Di Pakaian
Pendapat Ashah : Disunnahkan juga memakai wewangian di pakaian yaitu sarung dan ridak ihram. Dalilnya adalah qiyas pada hukum memakai wewangian di badan.
Pendapat Tsani : Tidak boleh memakaikan wewangian di pakaian sebab pakaian tersebut akan dilepas dan dipakai kembali. Apabila sudah dilepas, lalu dipakai kembali maka hukumnya seperti memakai pakaian yang ada wewangian.
Gambaran pendapat pertama dalam Kitab Raudhah dan Ashal Raudhah disebutkan dengan redaksi “boleh” (Jawaz).
(Lihat Raudhatut Thalibin Karya Abi Zakariya Yahya Bin Syaraf Al Nawawi. Juzuk 2, Hal. 540. Penerbit Darul Faiha’, Damsyiq, Suriah).
Gambaran pendapat pertama dalam Kitab Tatimmah disebutkan dengan redaksi disukai (Istihbab).
Disebutkan dalam Kitab Syarah Muhadzab bahwa pendapat pertama itu adalah pendapat asing (gharib).
(Lihat Al Majmu’ Syarah Muhadzab Karya Abi Zakariya Yahya Bin Syaraf Al Nawawi. Juzuk 7, Hal. 229. Penerbit Maktabah Al Irsyad, Jedddah, Saudi Arabiya)
III. Wewangian Badan Melekat Di Pakaian
Dan jika wewangian di badan melekat di pakaian maka sudah sepakat para ulama bahwa hukumnya adalah tidak mengapa.
IV. Aroma Wewangian Kekal Dalam Ihram
Aroma wewangian yang dipakai sebelum ihram dan kekal dalam pelaksanaan ihram maka hukumnya adalah tidak mengapa.
Dan tidak mengapa juga kekalnya wewangian yang punya bentuk.
Dalilnya adalah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Sayyidah Aisyah :
كأني أنظر إلى وبيص الطيب في مفرق رسول الله و هو محرم
Artinya : Seolah olah saya melihat kilauan parfum di belahan rambut Rasulullah, dan beliau saat itu sedang ihram.
(Shahih Bukhari Karya Abu Abdillah Muhammad Bin Ismail Bin Ibrahim Bin Al Mughirah Bin Baradzibah Al Bukhari Al Ju’fi. W. 256 H. Hadits Ke. 1538. Hal. 374. Penerbit. Dar Ibnu Al Katsir. Damsyiq. Beirut)
(Lihat Kitab Shahih Muslim Bi Syarhi Al Nawawi Karya Imam Nawawi. Juz. 8. Hal. 142 – 143. Hadits ke 1190. Penerbit. Muassasah Qurthubah. Cet. 2. Tahun 1994 M)
Kata Al Wabish (kilauan) dibaca dengan huruf Ba bertitik satu dan huruf Shad tanpa titik yang bermakna Al Bariq (kilauan).
Hukum berkekalan wewangian tersebut berlaku secara umum, baik wewangian di badan maupun pakaian.
Membuka Pakaian Yang Wangi Dan Memakai Kembali
Pendapat Ashah : Meskipun sunnah memakai wewangian di badan dan tidak menjadi masalah kekalnya wewangian dalam ihram, tapi jika sudah dibuka dan dipakai kembali maka hukumnya wajib membayar fidyah. Sama kasusnya seperti mengambil wewangian dari badan, lalu mengolesnya pada pakaian.
Pendapat Tsani : Tidak wajib bayar fidyah sebab sudah menjadi adat pakaian yaitu dibuka dan dipakai lagi. Maka hal tersebut adalah dimaafkan.
Ijazah Tariqat Ayat Kursi Dan Tarikat Maut
Setelah pengajian, Abi Najmuddin memberikan ijazah yang bersanadkan kepada Abuya Muda Waly dari jalur Abuya Karimuddin kepada seluruh jamaah pengajian.
